Header Ads Widget

Hasil Kongres IKMA Indonesia, Pemda Bekasi Harus Selamatkan Warga Kp Pilar

Bekasi - Kongres IKMA PGSD Indonesia yang diselenggarakan di Sidoarjo, Jawa Timur pada Kamis (30/01/2020), dijadikan wadah kajian tentang isu penggusuran di Kampung Pilar, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi.
Kongres Ikatan Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (IKMA PGSD) Indonesia ke- IV diikuti oleh sekitar 150 perwakilan mahasiswa PGSD dari puluhan perguruan tinggi di Indonesia, merupakan agenda yang di dalamnya membahas tentang pendemisioneran dan pembentukan kepengurusan IKMA PGSD tingkat Pusat (Nasional) yang baru, sekaligus untuk merumuskan program kerja selama 1 periode (2 tahun) yang nantinya wajib dilaksanakan oleh kepengurusan baru yang terpilih.
Perumusan program kerja yang di dalamnya juga memuat pembahasan tentang isu lokal pendidikan (khususnya di tingkat SD) dari berbagai wilayah di seluruh Indonesia menjadi agenda yang paling menarik bagi para peserta kongres.
Dari banyak isu lokal pendidikan yang disampaikan oleh peserta kongres, salah satu persoalan yang paling disoroti adalah isu tentang penggusuran di Kampung Pilar, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi yang disampaikan oleh perwakilan mahasiswa dari Universitas Islam 45 Bekasi.
Ricky Erviantara, mahasiswa Universitas Islam 45 Bekasi yang juga merupakan Sekretaris Umum IKMA PGSD Pusat periode ke-III menyampaikan isu lokal Kampung Pilar untuk dibahas dalam forum kajian nasional tersebut melalui kajian dalam perspektif pendidikan, khususnya di tingkat Sekolah Dasar (SD).
Ricky menceritakan keperihatinannya terhadap anak-anak usia sekolah dasar di Kampung Pilar yang tempat tinggalnya terancam penggusuran.
Menurutnya, segala jenis pembongkaran paksa, selain berdampak pada persoalan ekonomi orang tua (si anak usia sekolah dasar), juga akan berdampak pada psikologis anak itu sendiri.
“Siapa yang tega melihat generasi penerus bangsa dirusak rumah dan psikologinya?. Maka itu IKMA PGSD wajib peduli terhadap isu-isu lokal penggusuran di seluruh daerah yang terindikasi ada anak-anak usia SD di sana yang menjadi korbannya,” ungkap Ricky.
Ricky juga meminta agar pengurus IKMA PGSD yang baru dapat merumuskan solusi alternatif bagi permasalahan ini.
“Untuk tindak preventif-nya kita cukup merumuskan program solusi bagi permasalahan ini, tapi untuk menyelamatkan yang sudah terancam, tentunya kita semua butuh gerakan. Kalau perlu instruksikan seluruh pengurus IKMA tingkat daerah untuk menggelar aksi di pemerintahannya masing-masing,” bebernya.
Peserta forum yang sependapat dengan Ricky pun sepakat untuk merumuskan program preventif bagi permasalahan ini, namun untuk gerakan awal, mereka lebih memilih untuk menyampaikan pernyataan sikap terlebih dahulu.
Di akhir kegiatan, ratusan peserta kongres berkumpul di aula untuk menyampaikan pernyataan sikap IKMA PGSD terhadap isu penggusuran di Kampung Pilar. Dalam pernyataan sikap tersebut, pengurus IKMA PGSD Pusat meminta agar pemerintah Kabupaten Bekasi dapat segera membantu dan menyelamatkan aset generasi bangsa di Kampung Pilar yang terancam dirusak rumah dan psikologinya.

Berita Lainnya

Baca Juga