Header Ads Widget

Rumus Archimedes dan Gaya Tolak Balik Kerusakan Lingkungan Terhadap Kita


Oleh Dedi Kurniawan, S. Sos

Hukum Archimedes adalah F = ρ.V.g. Arti dari hukum tersebut adalah suatu benda yang dicelupkan kedalam zat cair akan mengalami gaya keatas yang besanya sama dengan berat zat cair yang dipindahkan oleh benda tersebut. 


Di dalam kerusakan Ekologis sebenarnya mengandung Variabel dari Rumus yang telah di temukan sebelum Nabi Isya As lahir tersebut Ada Variabel yang terkait dalam Tata Kelola lingkungan yang buruk. 


Itu artinya gaya tolak balik lingkungan akan sesuai dengan apa yang telah mereka rusak. Apabila Lingkungan telah rusak maka, gaya tolak balik lingkungan terhadap kita akan semakin menimbulkan daya kerusakan yang sama. 


Ambil contoh di Borneo. Dua minggu lalu dalam memasuki pergantian tahun menuju 2022. 12.000 ribu lebih warga yang tinggal di Das Sungai Kapuas yang terbentang sepanjang 159 Km dan bermuara ke Laut China Selatan meluluhlantakan 38.000 warga yang terdampak, dengan ketinggian air sedalam 0.5 sampai 3 meter lebih. 


"Peristiwa itu terjadi di wilayah paru-paru Dunia nomor dua setelah sungai Amazon di belahan Amerika Selatan."


Lalu, di Indonesia bagian timur tepatnya di Lombok surganya para Wisatawan asal Ausiie. Juga terjadi hal yang sama. Tepatnya di Kecamatan Gunung Sari Desa Ranjok NTB. 


Air setinggi 3 meter dengan deranya sukses menyapu jembatan dan derai air mata warga nya. Evakuasi pun menemui jalan sulit. Karena ketika warga akan di ungsikan ke pesisisr telah terjadi hal yang buruk juga. Yaitu banjir Rob. 


Dua kasus yang berbeda namun konteks nya sama. Jika di Kalimantan daerah serapan airnya banyak yang berubah fungsi menjadi pertambangan sehingga daya penyerapan (absorsi) tanah terhadap air menipis dan dilengkapi dengan penebangan liar yang bertujuan guna membuka perkebunan sawit akan sangat absolut menimbulkan efek gaya tolak balik jika di kaitkan dengan rumus Archimedes. 


Begitu juga dengan Lombok. Pariwisata yang memang menggerakan roda ekonomi penduduknya tak mengenal kata "lestari ". Semua lahan yang yang dianggap "Profitable" mereka eksploitasi tanpa mempertimbangkan aspek alam dan fungsinya. 


 Maka benar saja, efek gaya tolak balik alam dalam bentuk bencana sungguh terjadi. Ribuan warganya mengungsi dan beberapa jembatan putus. Di susul kemudian bahan pokok langka dan korban jiwa menyusul saling bersahutan. 


Sungguh sebenarnya apa yang kita perbuat akan menghasilkan imbalan yang sesuai. Bencana yang siap menerkam adalah wujud dari apa yang telah kita perbuat. 


Tak ada lagi untuk bernegoisasi dengan para kaim Kleptokrasi yang kita lebih mengenalnya dengan istilah Oligarki. Dan penutup, jika kita jaga alam, maka alam akan jaga kita. Dan semoga jurnal ilmiah ini menjadi bahan rujukan agar kita lebih care terhadap Ciptaan NYA. bukan cenderung merusaknya. 


Penulis adalah Direktur Kajian Strategis dari #bambufoundation

Berita Lainnya

Baca Juga